Setiap
di jalan, kita sering mengingat nama makanan. Di banyak sudut jalan saat
orang-orang melintasi kerap menemukan rambu yang berketerangan: Rawan
Kecelakaan. “Rawan” mengingatkan “Rawon”. Tuan dan Puan, bila Anda menekuni
dunia lawak maupun komedi, analogi itu bisa Anda jadikan pembuka saat berada di
hadapan hadirin. Walaupun, di luar keberhasilan memancing tawa, Anda bisa kena
ejekan dengan ketidaklucuan sama sekali.
Sama
halnya dengan beberapa hal yang akan aku utarakan di kesempatan kali ini.
Melalui tulisan ini aku tidak akan mengajakmu untuk tertawa. Tiada lain adalah
tulisan ini didasarkan pada kisah bagaimana relasi antara dunia otomotif dan
peristiwa kecelakaan. Itu adalah sebuah kenyataan yang membuat kita mudah
sedih, was-was, dan perasaan campur aduk yang tak menentu.
Aku
membaca sebuah novel garapan Carlos María Domínguez
yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dengan judul Rumah Kertas dan diterbitkan Marjin Kiri
pada 2016. Novel menyodorkan pengisahan demi pengisahan tak lazim, menguras
energi dan pikiran kita untuk memikirkan dengan dalam atas apa yang tertulis
dan maksud yang hendak disampaikan.
Di
bagian pembuka, kita mendapatkan sebuah paragraf berupa: “Pada musim semi 1998,
bu dosen Bluma Lennon membeli satu eksemplar buku lawas Poems karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat
menyusuri kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil.” Kisah itu
hanyalah sebagaian dari apa yang ditulis Domínguez. Buku dan mobil telah memberi tatapan
permenungan pada kecelakaan dan kematian.
Konon,
di banyak negara, kecelakaan adalah urutan teratas yang menyebabkan tingginya
akumulasi kematian. Imajinasi kemajuan menjadi penentu pada nalar, sikap
ilmiah, dan tindakan masuk akal. Otomotif perlu mendudukkan sebuah pencerahan
dalam proses persentuhan terhadap jalan. Jalan yang hendak dimaksud tiada lain
adalah jalan keselamatan.
Di Majalah
Tempo edisi 10 Desember 1988, kita
dapat melihat iklan mobil Mazda 323 Trendynamic. Di iklan, kita melihat gambar
mobil dan buku. Sama sekali iklan tidak memberikan keterangan akan bahayanya
kecelakaan sebagai tindakan preventif. Namun, barangkali, begitulah bahasa
iklan. Bahasa yang mengurangi pada menaiknya ketakutan dan kecemasan. Beda
halnya pada bahasa media sosial, yang mudah menjadikan orang cemas dan
mengalami permasalahan mental.
Kita
menyimak tulisan yang ada di dalam buku pada iklan tersebut. Kita melihat
daftar nama-nama yang melekat pada mobil tersebut. Buku dengan keterangan itu
agaknya sah menjadi bukti untuk tulisan di bagian kepala iklan: “MENYAJIKAN
DAFTAR TERPANJANG TENTANG KELENGKAPAN”. Iklan mengetengahkan teknologi yang
dalam pemaknaan lengkap menjadikan orang yakin bahwa mobil mengutamakan
keselamatan penumpang.
Pada
permenungan terhadap situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauan
rupanya kita sadar betul bahwa kecelakaan bukan bergantung pada kendaraan yang
dikenakan. Namun, lebih banyak terjadi pada kealpaan yang hadir dari manusia. Dalam
wacana lebih luas kita mengenalnya dengan antroposentrisme. Bukankah konyol,
ketika penyebabnya adalah manusia, namun beruang-ulang yang kerap disalahkan
adalah Tuhan.
Keselamatan
barangkali adalah angan yang mestinya didasarkan pada tindakan, bukan sebatas
hasrat ucapan lisan. Kata “Keselamatan” mengingatkan sebuah buku garapan Steven
Pinker. Aku membaca dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Haz Algebra,
Enlightenment Now: Membela Nalar, Sains,
Humanisme, dan Kemajuan. Buku itu diterbitkan pertama kali oleh Global Indo
Kreatif di tahun 2019.
Pinker
dalam bab 12 menuliskan judul “Keselamatan”. Di sana Pinker menyoal kecelakaan.
Ia memaparkan data dalam keterangan berikut: “Kecelakaan adalah penyebab
kematian nomor empat di Amerika Serikat, setelah penyakit jantung, kanker, dan
penyakit pernapasan. Di seluruh dunia, jumlah korban cedera sekitar
sepersepuluh dari semua kematian, melebihi jumlah korban AIDS, malaria, dan
tuberkulosis yang digabungkan, dan bertanggung jawab karena kematian dan
cacat.”
Maaf,
Tuan dan Puan, mari kita terus bermenung. Kita boleh mengingat akan nasihat dan
petuah dari orang tua saat merelakan kita bepergian dan melakukan perjalanan.
Aku ingat terhadap orang tuaku. Mereka tidak pamrih sepulang perjalananku
membawa kesuksesan, namun pesan yang tersampaikan dan menyentuh itu adalah:
“Hati-hati di Jalan!”. Aku tidak sedang ingin mengajakmu untuk mengingat Tulus.
Benarlah
demikian, di Majalah Tempo edisi 1
Juni 1975, kita temukan sebuah gambar beberapa orang di jalan dan beberapa
kendaraan. Gambar itu mengisahkan peristiwa kecelakaan. Masa lalu, perkara
kecelakaan perlu dikabarkan. Di gambar, keterangan tertulis: “KEBUT2AN DIJALAN
RAYA MEMBAHAYAKAN DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN.”
Tuan
dan Puan, sekali lagi, aku ingin bercerita mengenai kecelakaan. Bahwa kecelakaan
bukan sebatas pada jalan kendaraan. Kecelakaan itu juga berhubungan dengan
pemikiran maupun ilmu dan pengetahuan. Kita ingat imajinasi kampus melahirkan
kelompok cerdik cendekia. Pernah dengar, banyak mahasiswa menerapkan pola
kebut-kebutan dengan memunculkan arti serampangan dari SKS, yaitu Sistem Kebut
Semalam.
Majalah
Intisari edisi No. 35, Juni, 1966
memuat tulisan Die Welt berjudul “MAHASISWA DENGAN MOBIL PRETASINJA KURANG”.
Die Welt menulis: “Mahasiswa jang mempunjai mobil pribadi dibandingkan dengan
rekan2nja jang tak memilikinja, ternjata lebih rendah pretasinja.
Itulah hasil penjelidikan sebuah universitas Amerika. Diantara mahasiswa
terpandai tidak ada jang bermobil. Pretasinja itu sering menurun sedjak ada
mobil. Dari mahasiswa jang paling rendah prestasinja, 30% bermobil.”
Mobil
masih menjadi penanda kemewahan. Ia menyeret pada ruang-ruang pendidikan. Bisa
jadi cara mengebut dalam mengendarai di jalanan kemudian membiasakan diri pada
persoalan pada pola belajar. Kebut itu juga berhubungan dengan mengerjakan
tugas, dahaga ilmu dan pengetahuan, serta kemauan untuk terus memahami
kehidupan. Pada abad XXI, kelihatannya tidak hanya yang bermobil, pendidikan
masih terlihat sering mengisahkan kecelakaan.[]
*Joko Priyono. Fisikawan Partikelir. Penulis Buku Bersandar pada Sains (2022).