“mengabarkan setiap halaman buku, menjadi manusia revolusioner dan seutuhnya”

Rabu, 04 Januari 2017

Narasi Einstein dan Big Science



Tepat tanggal 14 Maret 1879 di salah satu kota yang ada di Jerman, Ulm, lahirlah seorang bernama Albert Einstein. Selang beberapa waktu setelah kelahirannya, keluarga Einstein memutuskan untuk pindah ke Munich, kota yang pada akhirnya menjadi tempat ia menghabiskan tahun-tahun sekolahnya. Proses dalam menjalani kehidupannya sangat berliku, hingga pada akhirnya ia menjadi salah satu jenius yang tak perlu dipertanyakan lagi kemampuannya.
Einstein muda bukanlah seorang pelajar yang yang baik. Bahkan, pada tahun 1894 dia berhenti sekolah ketika keluarganya pindah ke Italia. Setelah gagal sekali dalam ujian masuk, dia akhirnya diterima di Swiss Institute of  Technology di Zurich, Swiss pada 1896. Meskipun dia adalah murid yang pintar di Zurich, tetapi dia tidak mendapatkan pekerjaan di semua universitas yang ada di Swiss. Alasannya adalah karena dia dianggap sebagai pemalas.
Akhirnya dia pun meninggalkan dunia akademis untuk bekerja di kantor jasa paten di Bern pada tahun 1902. Pekerjaan ini memberinya gaji yang cukup, dan karena tugas-tugas yang diberikan pada juru tulis yunior tidak selalu berat, maka ia mempunyai banyak waktu luang untuk berpikir dan belajar mengenai fisika. Sampai pada akhirnya beliau diyakini sebagai salah satu ilmuwan yang paling dikenang dan berpengaruh, dan saat ketika ia melontarkan teorinya, dianggap sebagai tonggak lahirnya Big Science itu sendiri.
Tiga paragraf di atas menjadi sedikit pengantar mengenai konsep peta pemikiran Albert Einstein serta berkaitan mengenai lahirnya Big Science. Dia lah Peter Coles, ahli kosmologi dan profesor astrofisika pada University of Nottingham. Dia juga menulis buku Hawking and the Mind of God.
Zaman Big Science
Ilmu telah berkembang dengan kecepatan yang mengagumkan selama lebih seratus tahun. Seluruh disiplin ilmiah utama-fisika, kimia dan biologi-sekarang tidak seimbang lagi jika dibandingkan dengan apa yang ada pada 1900. Penerapan dari gagasan ilmiah baru, misalnya dalam bidang teknologi dan kedokteran, telah mengubah kehidupan sehari-hari menuju tingkatan yang sama-sama luar biasa, paling tidak di negara-negara maju. Dalam banyak kasus, perkembangan ini dipersembahkan untuk kebaikan bersama, meskipun kadang kala perkembangan ini menghasilkan perubahan sosial yang besar dan pada akhirnya meninggalkan urusan yang besar dalam masyarakat.
Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi sebanding dengan pengaruh terhadap cara pandang dan cara berpikir dari manusia itu sendiri. Ada paradigma yang berkembang bahwasannya ilmu menyingkirkan atas hal yang bernama agama. Namun sebaliknya, paradigma yang berkembang di sebagian yang lainnya adalah bahwasannya ilmu merupakan agama, yang rangkaian doanya sarat dengan jargon yang penuh mistifikasi. Peter Coles bahkan menyebutkan, dengan perkembangan ilmu itu sendiri, para ilmuwan mulai berpikir tentang aspek-aspek alam yang selama ini telah dikuasai ajaran agama. Namun, ini hanya salah satu contoh ilmu yang bergerak dan mengganggu apa yang sebelumnya merupakan arena tersendiri dalam pikiran manusia.
Era modern pemikiran ilmiah bermula dari sosok Galileo dan Newton. Sejak saat itu, ilmu menjadi semakin berkembang. Melalui gravitasi universal, Issac Newton ikut andil dalam pencapaian besar pertama  dari fisika teoritis. Teori Newton tentang mekanika dirangkum dalam tiga hukum sederhana yang masing-masing adalah (1) Setiap benda berlangsung dalam keadaan berhenti (tidak bergerak) atau gerakan yang seragam dalam sebuah garis kecuali jika ia dipaksa mengubah keadaan ini dengan daya yang ditimpakan di atasnya, (2) kecepatan perubahan momentum itu sebanding dengan daya yang ditimpakan, dan berada pada arah di mana gaya ini bekerja dan (3) pada setiap aksi selalu ada reaksi yang sebanding dengan posisi yang berlawanan. Sementara peran Galileo adalah mendahului tiga abad sebelum Einstein tentang gagasan mengenai konsep dasar relativitas.
Eddington dan Ekspedisi-ekspedisi
Ini menjadi salah satu bahasan yang menarik dari Peter Coles. Ia menceritakan kisah ekspedisi 1919 dari seorang astronom Arthur Stanley Eddington, pria kelahiran Cumbria pada tahun 1882 yang dibesarkan sebagai Quaker (anggota jemaat kristen yang anti perang) yang taat, sebuah fakta yang memainkan peran penting dalam cerita ekspedisi gerhana. Pada tahun 1912, ketika masih berusia 30, dia menjadi Plumian Professor of Astronomy and Experimental Philosophy pada University of Cambridge, jabatan astronom yang paling prestisius di Inggris, dan dua tahun kemudian dia menjadi direktur Cambridge Observatories.
Eddington memimpin sebuah ekspedisi ke Brazil untuk mengamati gerhana pada tahun 1912, sehingga bukti atas prestasinya tersebut menjadikan Eddington sebagai kandidat ideal yang akan ditugaskan untuk mengukur pembelokkan cahaya yang telah diprediksikan. Selang tiga tahun kemudian dia berada di Inggris ketika Einstein tengah mempresentasikan teori relativitas umum di depan publik Prussian Academy of Science. Hingga pada akhirnya ia sangat terkesan dengan keindahan karya Einstein, dan mulai mempromosikannya. Latar belakang politik semasa itu adalah Inggris dan Jerman tengah berperang, jadi tak ada komunikasi langsung yang menyangkut hasil-hasil ilmiah antara dua negara itu.
Pada akhirnya, ekspedisi itu berangkat tepat pada Februari 1919 dan kembali ke komunitas astronomi, khususnya di Inggris dengan tangan hampa. Memang pada saat itu ada beberapa kemungkinan. Mereka gagal mengukur apa pun, disebabkan cuaca atau beberapa kecelakaan lain. Mereka tidak mengukur pembelokkan sama sekali. Mereka mungkin menemukan nilai Newtonian, yang akan membuat malu Einstein. Atau mungkin mereka membenarkan dia dengan mengukur faktor penting dari keduanya.
Sebuah pertemuan khusus antara Royal Astronomical Society dan Royal Society of London digelar pada 6 November 1919. Reaksi dari para ilmuwan pada pertemuan khusus itu penuh pertentangan. Eddington sangat berhati-hati dalam menghilangkan analisis terhadap semua pengukuran yang diambil, Ludwick Silberstein mengingatkan khalayak dengan menunjukkan jari pada potret Newton yang bergantung pada ruang pertemuan tersebut, dan mengingatkan: “kita memberikan kesempatan pada orang besar itu untuk melangkah dengan sangat hati-hati dalam melakukan modifikasi atau mengubah hukum gravitasi”. Di sisi lain, Profesor J.J. Thomshon, penemu elektron dan juru bicara dalam pertemuan tersebut berhasil diyakinkan. Dia berkata, “ini adalah hasil terpenting yang dicapai yang berkaitan dengan teori gravitasi sejak zaman Newton”.
Einstein sendiri tak merasa ragu. Dia telah mengetahui hasil-hasil itu dari ekspedisi Inggris sebelum pengumuman resmi pada November 1919. Pada 27 September, dia menulis sebuah kartu pos dengan penuh gairah kepada ibunya:
“........menyenangkan berita hari ini. H.A. Lorentz mengirim telegram bahwa ekspedisi Inggris benar-benar telah mengukur pembiasan cahaya langsung dari matahari”.
Dia kemudian meluapkan kegembiraannya dalam sebuah catatan yang penuh gairah tentang teman dan koleganya, ahli fisika, Max Planck:
“Dia adalah salah satu orang paling baik yang pernah saya kenal....tetapi dia tidak sungguh-sungguh mengerti fisika, (sebab) selama gerhana 1919 dia tidak tidur sepanjang malam untuk melihat apakah gerhana tersebut akan menegaskan pembiasan cahaya melalui bidang gravitasi. Jika dia benar-benar mengerti (teori relativitas umum), dia akan tidur saja, seperti yang saya lakukan”.

Joko Priyono, Penggiat Buku Revolusi

Judul                           : Einstein dan Lahirnya Big Science
Penulis                         : Peter Coles
Penerbit                       : Jendela
Kota Terbit                  : Yogyakarta
Cetakan                       : Pertama, 2003
Jumlah Halaman          : viii+76; 12 X 18 cm
ISBN                           : 979-95978-139-9

Kamis, 20 Oktober 2016

Aku, Buku dan Bola

“Saya sudah kelewat jarang bermain bola. Impian menjadi pemain sepakbola sudah dikubur jauh-jauh hari. Kini, saya hanya bisa bermain sepakbola dengan tangan yang mengetikkan huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat-menuliskan sepakbola. Ya, saya menggunakan tangan untuk apa yang sudah terlampau sukar untuk dilakukan dengan kaki.”
(Zen RS, 2016)

Petikan kalimat itu merupakan pembuka dari salah satu esai Zen RS yang berjudul “Sepatu Bola Pertama” dalam bukunya yang berjudul “Simulakra Sepakbola”. Entah itu sebagai salah satu hal untuk terus membela diri akibat cita-cita menjadi pemain sepakbola yang tak sampai, atau mungkin menjadi bagian proses yang telah dilaluinya dari masa kecil, bahkan saat menginjak kelas V SD pernah berujar ingin menjadi seperti Marco Van Basten hingga aktivitasnya sekarang salah satunya yaitu masih bergelut dengan dunia sepakbola lewat data, analisa dan fakta. Diolah sedemikian rupa. Memberikan sebuah gagasan yang segar dari sisi lain lapangan hijau, yang banyak orang biasa mengenalnya sebagai permainan adu kesebelasan. Namun, melalui laman panditfootball kita akan dihadapkan dengan makna sepakbola dengan beragam perspektif.
Zen RS benar-benar memahami bahwasannya hakikat dari seorang manusia adalah ia yang terus mau belajar, berpikir dan melakukan sebuah renungan atas apa yang dilakukan. Manusia dalam hidupnya memiliki ataupun mematok target apa saja yang harus ditempuh dalam waktu yang periodik. Sesuai dengan analogi hukum pertama dari Newton, tentu manusia bisa merefleksikan maupun menganalogikan, bahwasannya W = F x S. Itu berarti besarnya usaha adalah berbanding lurus dengan gaya, atau dalam hal ini adalah manifestasi manusia dalam membuat formula. Juga berbanding lurus dengan jarak, dalam hal ini adalah perjalanan dari usaha yang telah dilalui. Cita-cita tanpa ada usaha hanya menjadi sebuah utopia semata. Dan sebaliknya usaha tanpa cita-cita, kemungkinan besar hanya bermuara pada hal yang sia-sia.
Tentu, saya juga memiliki cerita panjang akan hal yang bernama sepakbola. Kala itu ketika masa sekolah dasar berada di kelas IV SD mulai merasa heran saja dari kebiasaan Bapak yang sangat begitu menantikan pertandingan sepakbola. Tak bisa dipungkiri, Bapak adalah seorang penggemar pertandingan sepakbola, bahkan dalam beberapa cerita singkatnya pernah menjelaskan, beliau di masa muda aktif bermain sepakbola untuk tim sepakbola dari dusun kami. Rasa heran itu pun, terus berlanjut. Sekali-dua kali aku mencoba untuk ikut menyaksikan pertandingan sepakbola bareng Bapak. Sebagai orang yang awam akan hal bernama sepakbola, mencoba untuk adaptasi adalah pilihan yang tepat.
Sampai pada akhirnya, aku pun menjadi tertarik akan sepakbola. Di sekolah dasar, sekolah menegah pertama hingga sekolah menengah atas kehidupanku dihiasi salah satunya oleh sepakbola. Puncaknya adalah ketika berada masa lulusan SMP, dan aku belum menentukan mau melanjutkan kemana. Terbesit sebuah ucapan kepada orang tua ku dikala itu. “Saya tidak melanjutkan ke sekolah menengah atas tidak apa-apa asalkan disekolahkan di SSB yang ada di Salatiga”. Sebegitu terobesinya ingin menjadi pemain sepakbola, meskipun pada akhirnya orang tua tak merestui. Karena riwayat penyakit hernia abdomenalis yang pernah saya derita kala kelas 8 SMP mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Namun, kegemaran untuk menikmati pertandingan sepakbola dan sesekali ikut bermain bersama teman-teman sekampung tak surut. Memang, di desa saya ada fasilitas lapangan sepakbola untuk mengembangkan minat dan bakat anak-anak muda, biasanya mereka berlatih sehabis asar sampai azan maghrib berkumandang.
Kedekatanku dengan Bapak akan sepakbola, hingga menyebabkan proses ideologisasi secara berkala. Beliau pengagum klub sepakbola dari ibu kota yang terkenal dengan julukan macan Kemayoran atau banyak kita kenal dengan Persija Jakarta. Untuk urusan klub sepakbola luar negeri, beliau pengagum The Red Devil’s atau biasa kita mengenalnya dengan Manchester United. Ideologisasi itu meskipun terjadi tidak langsung dan bertahap, hingga membuat saya juga mengidolakan dua klub sepakbola itu hingga hari ini. Era tahun 2000-an ketika Persija jaya dengan Trio ABG nya (Aliyyudin, Bambang Pamungkas dan Greg Nwokolo) sangat begitu dinantikan solo run, tarian di atas lapangan bahkan gol-gol yang lahir dari kepala, dada maupun kaki. Atau bahkan, Manchester United melahirkan sosok Rooney sebagai seorang penyerang yang pada 2008 biasa berkolaborasi dengan seorang Carlos Teves. Mereka berdua yang biasa menantikan umpan-umpan cantik salah satunya dari seorang Ryan Giggs atau bahkan Christiano Ronaldo.
Namun era terus berganti. Klub sepakbola tak banyak yang ajeg mempertahankan para pemainnya. Alasannya, karena faktor umur, kemampuan bahkan masa pensiun yang harus diterima setiap pemain sepakbola. Bursa transfer pemain menjadi fenomena yang selalu dirindukan oleh para penggemar sepakbola. Cita-cita menjadi pemain sepakbola mulai luntur, menjadi penggemar bola saja bahkan naik-turun atau fluktuatif. Aktivitas sepakbola kini hanya menjadi sharing pengetahuan maupun wawasan lewat obrolan di café, kos maupun warung Hidangan Istimewa Kota (HIK). Dalam beberapa obrolan, memang kita akan berhadapan dengan para penggemar sepakbola yang berbeda klub kesayangan. Jadi menjadi sebuah kewajaran jikalau muncul olok-olokan antar klub.

Minat ber-sepakbola ketika hanya bisa bicara lewat data, fakta maupun analisa alangkah baiknya harus diimbangi dengan buku. Karena kita perlu mengambil sikap teladan yang menjadi komitmen dari seorang Gus Dur, “Saya ini enggak punya pacar. Teman main saya cuma buku dan bola”. Menjadi mahasiswa hingga saat ini, saya coba berusaha melakukan hal tersebut. Ketika minat sepakbola bersifat naik-turun. Itu harus diterima, apalagi sepakbola kini menjadi sedemikian pesat dalam perkembangannya. Buku harus menjadi barang yang bisa dibicarakan secara data, analisa maupun fakta dari setiap apa yang tertera di dalamnya. (Joko)

Senin, 10 Oktober 2016

(Traffict Light) Itu Dilanggar Saja, Ndak Usah Dipatuhi!

“Jancuk”, idiom penuh tanda tanya dengan nada yang cukup keras keluar dari lisan seorang Ndlahom, yang pada pagi itu memboncengkan Karjo menuju ke kampus tercinta.
Cangkemnya itu mbok ya dijaga  gitu, to Hom. Ngaget-ngageti orang aja. Cangkemu apa gak pernah disekolahke?” Karjo dengan nada membentak, mengingatkan Ndlahom atas apa yang diucapkannya. Dia yang sedang asyik diboncengkan menuju ke kampus sambil mainan gawai yang dimilikinya. Dia merasa kaget atas ucapan Ndlahom yang tiba-tiba keluar dari mulutnya. Namun, Ndlahom masih santai dengan keadaaan konsentrasi memegang stir sepeda motor milik Mat, yang juga teman sekontrakan mereka berdua.
“Gak begitu, Mas Karjo. Ini mungkin luapan kekecewaanku yang keluar secara spontan. Aku heran dengan keadaan di pertigaan ini. Semenjak aku jadi mahasiswa di kampus ini, yang sampai sekarang baru dua bulan selalu bertanya-tanya.”
“Maksudmu gimana, Hom? Kamu mempermasalahkan peraturan traffic light yang ada di pertigaan ini? Atau kamu mempermasalahkan banyak dari mahasiswa selain kita yang tak menggunakan helm atau pelindung kepala? Atau kamu mempermasalahkan para pengguna jalan yang kesannya kebut-kebutan kaya gini dan membahayakan banyak orang?”
“Iya semuanya, Mas. Seolah-olah kita menjadi orang-orang yang bobrok dan membobrokkan jatidiri dan kearifan lokal bangsa Indonesia ini. Nyatanya, banyak yang mengagungkan dan berbicara lantang ketika acara masa orientasi mahasiswa baru beberapa minggu yang lalu. ‘Aku ini mahasiswa’, ‘aku ini agent of change’, ‘aku ini agent of control social’. Ah, gombalmukiyo, Mas. Iku tontonen motor ning ngarepe dhewe. Iku sing nyetir dadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Universitas.”
Sampeyan, dhek bengi ngimpi apa Hom?”, Karjo melontarkan pertanyaan itu atas statemen yang disampaikan oleh Ndlahom sebelumnya. Yang artinya kurang lebih adalah ‘Kamu, semalam mimpi apa Hom?’. Dengan agak merasa terkejut, Karjo masih terheran-heran dari ucapan yang telah disampaikan oleh Ndlahom. Disamping itu, Karjo merasakan perbedaan yang sangat begitu signifikan dialami oleh Ndlahom. Makin hari Ndlahom kelihatan makin kritis, meskipun menyandang status mahasiswa baru beberapa minggu saja.
Percakapan Ndlahom terhadap Karjo di sela-sela perjalanan menuju kampus memang salah satunya mengkritisi sikap para pengguna jalan di sebuah pertigaan yang dekat dengan kampusnya. Pasalnya, di pertigaan tersebut terpampang lampu lalu lintas atau traffic light yang masih nyala. Lampu merah berganti dengan lampu kuning berganti dengan lampu hijau. Dan seterusnya. Traffic light hanya menyala lampu warna kuning ketika mulai jam sepuluh malam hingga jam empat pagi. Sebagai salah satu seniornya di kampus, tentu Karjo bertanggungjawab dan harus memberikan pemahaman sepenuhnya kepada Ndlahom yang notabenenya baru menyesuaikan dengan habitus yang barunya.
Kondisi traffic light itu memang tak karuan. Dia ada namun tak dianggap ada. Ada pengguna jalan yang barangkali satu-dua menganggapnya. Tak lain dan tak bukan, dia adalah baru pertama kalinya melewati pertigaan itu. Memang, dengan keadaan kurangnya kesadaran dari pengguna jalan baik mahasiswa, birokrat kampus maupun masyarakat umum adalah menjadi penyebab carut dan marutnya lalu lintas yang ada di sana. Di sana adalah ladang egoisitas dari masing-masing pribadi terlihat. Satu sama lainnya berkeinginan untuk menyebrang terlebih dahulu. Tak ada koordinasi yang begitu jalan, kecuali prinsip toleransi antar sesama pengguna jalan itu tinggi. Namun, tak banyak ditemui orang-orang seperti itu. Bahkan, hal itu hingga menyebabkan terjadinya sebuah kecelakaan.
“Memang bener, Hom. Traffic light di pertigaan ini sudah banyak orang yang tidak memperhatikannya. Aku pun setelah kuliah di sini dua tahun lamanya, pernah merasakan dan berpikiran seperti apa yang kamu ucap. Aku sudah lama juga berkeinginan untuk merubah perilaku banyak orang yang terkesan melanggar peraturan itu. Namun, kendalanya adalah sedikit orang yang berpikiran seperti aku. Ada pun, mereka tidak mau mengungkapkan kepada publik. Bahkan, kesannya malah ikut-ikutan menjadi pragmatis dan mengikuti kebiasaan lama yang masih bertahan sampai sekarang ini”, terang Karjo.
Hla terus sampeyan saiki kepriye, Mas? Mau ikut-ikutan menjadi orang yang pragmatis seperti kebanyakan pengguna jalan yang tak mengindahkan sebuah peraturan. Sampeyan mahasiswa lho, Mas. Apa gak malu, ketika sampeyan dengan lantang menjadi orator demonstrasi. Mengkritik pemerintah kesana-kemari. Melakukan aksi secara totalitas dan habis-habisan. Namun, perkara sepele kaya gini masih sampeyan langgar?”
“Aku cocok dengan pemikiranmu. Gak rugi sampeyan dadi mahasiswa ning kampus iki. Kebenaran memang harus ditegakkan setegak-tegaknya. Hukum iku gak pandang bulu berdasarkan status sosial, jabatan ataupun latar belakang yang lainnya. Dengan pertimbangan bahwasannya traffic light ini dibutuhkan guna menghindari tumpukan kendaraan menuju ke kampus atau sebaliknya. Selain itu, perkara kenyamanan dan keamanan dari masing-masing pengguna jalan adalah yang lebih utama.”
“Lha terus, Mas?”, tanya Ndlahom dengan sedikit ketus.
“Mahasiswa itu golongan intektual yang diharapkan selalu memegang prinsip dan tanggung jawab atas keilmuan yang di dapat. Mahasiswa adalah insan yang biasa berwacana. Wacana dari paling kanan hingga sampai paling kiri. Namun, yang terpenting dari kita adalah menyadarkan dari hal yang terkecil dan berimbas pada banyak orang. Aja dadi mahasiswa sing pinter wacana thok, tapi kudu dibarengi karo tindakan sing nyata”, pungkas Karjo.

Akhirnya keduanya menyepakati untuk membuat sebuah gerakan kecil-kecilan yang harapannya bisa berimbas bagi banyak orang. Terutama mengenai permasalahan yang berkaitan seriing dilanggarnya traffic light yang ada di pertigaan dekat kampusnya itu. Satu jam kemudian mereka membuat tulisan dalam sebuah papan kecil berukuran 300 cm2 dan dipasangkan di masing-masing tiang yang ada di traffic light. Tulisan itu berupa bahasa satire untuk menyindir dan menyadarkan banyak orang yang masih sering melanggar peraturan. Tulisan “Dan anggaplah aku seperti yang lain!” terpampang hingga saat ini, esok dan entah sampai kapan. Sinambi menunggu kepastian yang tak kunjung datang dan belum begitu jelas, mereka berdua ngopi bareng di sebuah warmindo yang ada di dekat traffic light itu, hingga lupa bahwa mereka pada hari itu ada Ujian Tengah Semester (UTS). (Joko)

Sabtu, 08 Oktober 2016

Transportasi, Pengamen dan Tukang Asongan

Gambar : http://il9.picdn.net/
“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlembat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”
 (Seno Gumira Ajidarma)

Rasanya sulit terbayang di dalam benak pikiran, jikalau jalan raya tidak identik dengan sebuah kemacetan. Nyatanya memang begitu. Media, baik cetak maupun elektronik tak kurang tiga jenis selalu memberitakan tentang hal tersebut. Bahkan, tak sedikit media yang menjadikannya sebagai headline atau kepala berita dalam bahasa jurnalistik.
Bercerita tentang jalan raya, tidak adil ketika kita tidak melibatkan Daendels yang dalam beberapa sumber dikatakan sebagai salah satu aktor pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan. Meskipun demikian, bukankah yang selayaknya menyanding gelar itu ya rakyat Indonesia sendiri. Proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan dikenal sebagai jalan raya Pos. Merupakan proyek utama Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 yang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah sebagai salah satu usaha untuk membuka ruang gerak bagi tentara Belanda. Karena memang, pada zaman itu kita kenal sebagai zaman kolonialisme dan imperialisme.
Bercerita proyek, akan lain lagi kalau kita mau menuju romansa yang terjadi di dalam salah satu novel karangan Ahmad Tohari. Judulnya adalah “Orang-orang Proyek”. Buku itu menceritakan secara gamblang berkaitan mengenai permasalahan dan bobroknya dunia proyek, yang utamanya adalah pembangunan. Bahkan, bukan hanya pembangunan saja yang menjadi ajang bancakan, namun dalam realita banyak kasus lain yang terjadi, antara lain adalah pengadaan kotak pemilu, pembagian sembako untuk orang miskin, pengadaan bacaan untuk anak sekolah, program transmigrasi, program penanggulangan bencana alam hingga sidang umum MPR dan penyusunan undang-undang. Yang semuanya itu bagi orang-orang yang tak bertanggung jawab, bisa dijadikan sebagai proyek yang mendatangkan keuntungan bagi diri pribadi dan sekelompoknya.
Kembali lagi mengenai pembahasan pokok dalam artikel yang barangkali tak ada manfaatnya ini. Karena memang, tulisan ini sewajarnya buat konsumsi pribadi. Tulisan ini juga tak ingin dimuat di harian surat kabar. Namun, ada kemungkinan di masa depan tulisan ini menjadi tulisan yang akan dicari banyak orang. Entah dari latar belakang maupun perspektif apa. Karena yang terpenting adalah sesuai dengan pesan Pramoedya Ananta Toer, bahwa menulis itu supaya kita bekerja untuk keabadian. Pembahasan kali ini berkaitan mengenai tiga hal pokok, yaitu masing-masing adalah transportasi, pengamen dan tukang asongan.  
Transportasi, menurut KBBI adalah pengangkutan barang oleh berbagai jenis kendaraan sesuai dengan kemajuan teknologi. Di negara yang bernama Indonesia ini, sangat begitu kompleks ketika kita mau membahas mengenai transportasi. Berdasarkan kepemilikannya, transportasi ada dua macam yakni umum dan khusus atau dalam hal ini adalah pribadi. Lain halnya jika ditinjau berdasarkan teritorinya, transportasi dibedakan menjadi tiga macam, yang masing-masing adalah transportasi darat, transportasi laut dan transportasi udara. Memang, transportasi dengan ragamnya akan selalu menjadi kebutuhan dalam kehidupan manusia. Hingga hari ini, dia diposisikan sebagai sarana dalam setiap perjalanan hidup manusia. Tak salah jika perkembangan teknologi, juga akan berpengaruh terhadap perkembangannya. Mulai dari yang tradisional hingga modern di Indonesia masih bisa ditemukan. Berbagai terminal, pelabuhan, bandara maupun segala penunjang yang lainnya menjadi perhatian khusus terutama dari dinas pemerintah yang terkait. Tujuannya adalah memberikan pelayanan semaksimal mungkin, karena termasuk dari tanggung jawabnya.
Ada sesuatu yang menarik kalau kita mau mengerucutkan pembahasan mengenai transportasi menjadi beberapa hal saja. Alasannya adalah biar kita mengetahui secara mendetail akan masing-masing yang menjadi bagian dari susunan trasportasi itu. Transportasi umum. Iya, transportasi umum menjadi salah satu ruang bersama dalam dunia transportasi. Dari namanya saja umum, tentu fasilitas ini menyangkut kebutuhan banyak orang. Transportasi umum banyak ragamnya, terutama di Indonesia. Misalnya adalah angkutan kota, bus, kereta api, kapal laut, pesawat dan lain sebagainya.
Beberapa hari yang lalu aku berkesempatan menikmati pelayanan dari salah satu jenis transportasi umum yaitu bus antar kota. Memang tak ada yang istimewa dari jenis bus itu. Kelasnya ekonomi, mungkin diperuntukkan bagi kelompok yang memiliki ekonomi di bawah rata-rata. Tak ada Air Conditioner (AC) atau pendingin di dalamnya. Panas dan sumpek itu sudah menjadi hal yang biasa. Setiap kali kernet bilang untuk berhenti sambil memberikan kode berupa memukul besi bagian dari bus dengan koin adalah pertanda ada penumpang mau turun karena sudah sampai di tujuannya.
Di balik derita dan cerita yang tak mengenakkan perasaan itu ada pelajaran berharga yang perlu kita renungi bersama. Ya, bus maupun angkutan kota memang keadaannya seperti itu. Tak bisa dipungkiri lagi. Sosok yang menjadi hikmah itu adalah pengamen dan tukang asongan. Dua sebutan yang bagi mereka mungkin bisa dianggap sebagai hal yang merendahkan dirinya. Dua sebutan yang bagi mereka mungkin bisa dianggap sebagai sindiran. Dua sebutan yang bagi mereka mungkin bisa dianggap sebagai ejekan. Namun, sedikitpun tak bermaksud begitu. Keyakinanku terhadap dua sebuatan itu adalah sebagai jenis profesi yang ada di negara Indonesia ini.
Pengamen, mereka dengan bermodal alat musik seadanya. Bekerja secara individu maupun secara koloni. Beradu nasib dalam setiap celah-celah sempit yang ada di angkutan kota, bus kota baik kelas ekonomi maupun bisnis. Menjajakan suara dihadapan para penumpang yang ada. Dengan itu, mereka berekspresi. Meluapkan segala kemampuan dan bakat yang dipunyainya. Dengan itu, mereka masih berharap untuk kehidupan yang lebih baik. Tak ada sebuah paksaan dalam setiap kegiatan yang ada. Berjalan dengan harmoni dan beriringan. Tercipta sebuah komunikasi interaktif dengan masing-masing penumpang. Ada sebuah persamaan frekuensi yang terjadi di sana. Satu sama lainnya saling berpikir dan meresapi kondisi hari ini. Namun, tak sedikit dari penumpang juga mencerca habis-habisan akan kehadiran pengamen. Menganggapnya sebagai hal yang berisik dan sangat begitu mengganggu. Itulah realita hari ini. Bahkan, tak sedikit yang menganggapnya sebagai bagian dari orang terlantar maupun orang jalanan. Keadaan ini menjadikan permasalahan semakin kompleks. Pemerintah mempunyai undang-undang yang berkewajiban melindungi maupun mengarahkan dengan baik. Namun, bagaimana kondisi hari ini? Undang-undang seolah-olah hanyalah produk hukum yang menjadi tidak efektif dalam pelaksanaannya.

Tukang asongan, menjadi sosok yang menginspirasi banyak orang. Lihatlah, betapa kuatnya mental mereka saat melakukan apa yang menjadi profesinya. Berhadapan dengan orang banyak dengan beragam suku, agama dan ras. Menawarkan barang dagangan satu dengan yang lainnya. Mencoba melakukan sebuah dialog interaktif dan komunikasi visual terhadap setiap para penumpang. Kalau sudah, mereka akan melanjutkan perjalanan ke angkutan kota selanjutnya. Melanjutkan perjalanan ke bus-bus kota selanjutnya. Pagi, siang, sore hingga malam dilakukan dan dilaluinya dengan percaya diri. Semuanya itu adalah menjadi usaha dalam kehidupan ini. Mungkin menjadi bagian dari tanggung jawab kepada orang-orang yang ada di rumahnya. Dan tentunya, hal ini adalah menjadi tanggung jawab dirinya dengan Tuhannya. Dan semuanya itu berjalan dengan baik, bertahan dan berkelanjutan. (Joko)

Selasa, 04 Oktober 2016

“Bacalah!”, Sebagaimana Diperintahkan Kepada Muhammad

Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang diutus oleh Allah Swt menjadi rasul terakhir di muka bumi ini. Perjalanannya panjang, beberapa riwayat telah memberikan penjelasan bagi kita semua bahwa beliau adalah salah satu rasul yang juga mendapatkan sebuah anugerah yang begitu luar biasa. Anugerah itu biasa kita menyebutnya dengan wahyu. Dalam perjalanan hidup yang penuh lika-liku, memang pada akhirnya Nabi Muhammad mendapatkan wahyu untuk pertama kali yaitu berupa iqra’ melalui perantara malaikat Jibril ketika berada di Gua Hira. Ayat tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab suci yang diyakini oleh orang-orang pemeluk agama Islam. Lebih tepatnya adalah berada pada ayat kesatu surat Al-Alaq.
Iqra’ jikalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia akan memiliki arti kurang lebihnya adalah ‘bacalah’. Ia merupakan kalimat perintah yang dalam tata bahasa Arab biasa disebut dengan fi’il amr . Kalau kita mau memahami perintah tersebut, tentu kita akan mendapatkan atau setidaknya akan mencoba untuk mendapatkan makna dari idiom “bacalah” tersebut. Tentu dalam hal ini, membaca yang dimaksudkan adalah membaca dalam arti lingkup luas. Membaca dengan tidak terpaku pada apa yang dibaca. Namun, membaca yang diharapkan adalah melihat dengan indera kepala yang kita miliki dengan melibatkan perasaan pada tataran kesadaran dari diri terhadap realitas serta memahami makna dari pesan-pesan yang ada baik tersurat maupun tersirat.
Membaca, dengannya kita bisa tahu tentang cakrawala ilmu yang terdapat di dunia ini. Dengan membaca, manusia bisa tahu dan dapat memaknai pesan tersurat maupun tersirat dari apa yang ia lakukan. Itu dapat tercermin dari hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia hingga hubungan dengan alam. Melewati berbagai tafsiran dari apa yang telah dibaca. Namun, dengan berbagai ragam tafsiran yang ada akan memunculkan sikap arif dari masing-masing manusia. Sikap tersebut akan termanifestasikan, yang salah satunya adalah dengan cara diskusi atau melakukan ”rembuk”. Kebenaran maupun kevalidan dari hasil membaca tidaklah cukup ketika tidak mau malakukan diskusi dengan tujuan membandingkan kepada yang lain maupun mencari sebuah klarifikasi yang pada akhirnya bermuara pada sebuah keyakinan akan suatu hal yang benar.
Tak ada hal yang sia-sia ketika kita mau membaca. Tak ada hal yang akan merugikan kita ketika kita mau membaca. Tak ada yang mebodohkan diri kita maupun mendekatkan kita pada sebuah kedunguan ketika kita mau membaca. Kita tentu tidak akan menjadi orang yang bebal kalau kita mau membaca. Membaca, barangkali kata kerja yang sangat begitu sederhana. Namun, untuk sebagian besar orang merasakan hal tersebut adalah perkara yang sulit. Di pelajaran sekolah dari setiap kurikulum mungkin akan selalu ada pelajaran membaca, namun apakah membaca kita selama ini hanya terpaku pada kurikulum? Dan sedangkan di luar itu, tidak banyak yang melakukannya. Bukankah ia adalah kata kerja yang mampu berdiri sendiri, namun berdirinya ia mampu menopang segala peradaban di dunia baik sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum maupun kesehatan. Berdirinya ia pun sebagai salah satu cara dalam menggali segala pengetahuan dan wawasan di dunia ini. Bahkan bisa lebih dari itu.

Berbagai karya-karya luar biasa dari para pegiat literasi sudah kita bisa saksikan bersama-sama hingga saat ini. Apakah kita hanya ingin menjadi pengamat dari karya apa yang telah digoreskan oleh para pendahulu. Bukankah kita adalah menjadi bagian generasi yang harusnya sudah sadar akan tanggung jawab itu. Kita adalah bagian dari generasi yang akan menjadi bagian estafet sebagaimana orang-orang yang telah menggoreskan karya baik di segala bidang dan kemampuannya. Melalui peristiwa turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw adalah menjadi salah satu contoh bagaimana tentang estafet ihwal literasi. Generasi-generasi di bawahnya yang diharapkan menjadi para penerus dan pengikut setianya. Melakukan dan mengusahakan dengan semaksimal mungkin adalah sebuah keniscayaan yang mesti dilakukan. Serta menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari tonggak sejarah peradaban dunia. “Bacalah!”, sebagaimana Muhammad pernah mendapatkan perintah itu. (Joko)

Copyright © Buku Revolusi | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com